LAPORAN ZOOLOGI INVERTEBRATA
Annelida
Muhammad Irsan (14222102)

Dosen Pengampuh
Awalul Fatiqin, M.Si
Asisten
1.
Nurul
Azizi
2.
Iga
Utama Putra
3.
Gustam
Hermiadi
4.
Rabeta
Ayu Susanti
PRODI TADRIS BIOLOGI
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
RADEN FATAH PALEMBANG
2015
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Annelida dalam bahasa latin, annulus= cincin, atau cacing gelang adalah
kelompok cacing dengan tubuh bersegmen. Berbeda dengan pltyhelminthes dan nematyhelminthes,
annelida merupakan hewan triploblastik yang sudah memiliki rongga tubuh sejati
atau hewan selomata. Namun annelida merupakan hewan yang struktur tubuhnya
paling sederhana. Filum annelida terdiri dari cacing berbuku-buku seperti
cacing tanah. Perkembangan buku-buku badan ini memungkinkan adanya pembentukan
fungsi yang berbeda dalam ruas badan (segmentasi) yang berbeda. Annelida memiliki
coelom yang besar untuk mengakomodasi organ dalam yang lebih kompleks. Terdapat
sekitar 12,000 jenis di laut, air tawar, dan daratan, terbagi menjadi tiga
kelas .
Jumlah Annelida yang
telah dikenal sekitar 15.000 spesies dengan ukuran yang bervariasi, dari yang
panjangnya 1 mm hingga 3 m. Annelida dapat hidup di berbagai tempat, baik di
air tawar, air laut, atau daratan. Umumnya hidup bebas, meskipun ada yang
bersifat parasit. Cacing ini mempunyai tingkatan lebih tinggi dibanding dengan
kedua kelompok cacing yang telah dibahas sebelumnya. annelida
memiliki bentuk tubuh bilateral, dengan tubuh beruas-ruas dan dilapisi lapisan
kutikula nonchitinous serta dilengkapi pula oleh sejumlah bristle chitin yang
disebut setae. Cacing ini terbagi sesuai dengan ruas-ruas tubuhnya terbagi
sesuai dengan ruas-ruas tubuhnya dan satu sama lain dibatasi dengan sekat
(septum). Pembuluh darah, sistem saraf, dan sistem ekskresi di setiap segmen
saling berhubungan melewati septa. Meskipun demikian, antara ruas satu dengan
ruas lainnya tetap berhubungan sehingga terlihat seperti cincin yang
terkoordinasi .
B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum Anelida
ini yaitu: untuk mengetahui Anelida secara morfologi dan anatomi dan untuk
dapat mengamati dan mengklasifikasikan Anelida.
BAB
II
KAJIAN
PUSTAKA
A.
Cacing Tanah
Secara sistematik, cacing tanah bertubuh tanpa kerangka yang
tersusun oleh segmen - segmen (bagian - bagian) fraksi luar dan fraksi dalam yang
saling berhubungan secara integral, diselaputi oleh epidermis (kulit) berupa
kutikula (kulit kaku) berpigmen tipis dan setae (lapisan daging semu
bawah kulit), kecuali pada dua sigmen pertama (bagian mulut) bersifat hemaprodit
(berkelamin ganda) dengan gonads (peranti kelamin) seadanya pada segmen
- segmen tertentu. Apabila dewasa, bagian epidermis pada posisi tertentu akan
membengkak membentuk klitelum (tabung peranakan atau rahim), tempat
mengeluarkan kokon (selubung bulat) berisi telur dan ova (bakal telur) .
Setelah kawain (kopulasi), telur akan berkembang di dalamnya dan apabila
menetas langsung serupa cacing dewasa (Hanafiah, 2010).
Secara struktural, cacing tanah mempunyai rongga besar yang
mengandung coelomocytes (pembuluh - pembuluh mikro), yang merupakan
sistem vaskular (bejana) tertutup. Saluran makanan berupa tabung snterior dan
posterior, eskresi (kotoran) dikeluarkan lewat anus atau peranti khusus yang
disebut nephridia. Respirasi (pernapasan) terjadi melalui kulit
(Hanafiah, 2010).
a.
Sigmen
Luar
Bagian luar cacing tanah tersusun oleh barisan sigmen - sigmen yang
diperantai oleh alur atau lekukan antar segmen yang bertepatan dengan posisi
septa pembagi badan secara internal. Sigmen - sigmen ini mempunyai lebar yang
bervariasi dan yang paling lebar pada zona anterior dan zona kliteler. Dalam
mendeskripsiannya, sigmen - sigmen dan luar antar sigmen ini diberi kombinasi
nomor urut dari depan ke belakang (Hanafiah, 2010).
b.
Pigmentasi
dan Kulit
Warna
cacing tanah tergantung pada ada tidaknya dan jenis pigmen yang dimilikinya.
Butiran pigmen ini berkembang da dalam lapian otot di bawah kulitnya. Paling
tidak sebagian warna juga disebabkan oleh adanya cairan kulomik kuning atau sel
klorogagen hijau dekat permukaan. Warna bagian dada dan perut umumnya lebih muda
dibandingkan dengan bagian yang lain, kecuali misalnaya pada megascolesidae yang berpigmen gelap, berwarna sama. Pigmen
cacing tanah umumnya adalah portirins, yang boleh jadi berasal dari
hasil hancuran sel klorogagen. Cacing yang tanpa atau berpigmen sedikit, jika
berkulit transparan biasanya terlihat berwarna merah atau pink akibat adanya
haemoglobin dari zona permukaan pembuluh kapiler, tetapi jika kulitnya tidak
transparan akan terlihat warna putih. Apabila kulitnya sangat iridescent,
seperti pada lumbricus dan denrobaena, maka akan terlihat biru
atau kehijauan (Hanafiah, 2010).
B. Analida (Cacing Bersegmen
Analida ( Filum
Analida) ialah cacing bilateral dengan selom dan tubuh bersegmen, dalam dan
luar. Mayoritas dari 12.000 spesies ialah cacing laut disebut polychaeta. Dua
kelompok lainnya ialah oligochaeta (meliputi cacing tanah) dan lintah. Kecuali
pada lintah, hampir semua segmen memiliki chaeta atau duri yang diperkuat
kitin. Jadi, cacing ini dinamai polychaeta dan oligochaeta (poly berarti
banyak, oliga berarti sedikit) (Tanggart 2012).
a.
Polychaeta Laut
Polychaeta yang paling terkenal
ialah cacing pasir (Nereis). Cacing ini sering dijual sebagai umpan
untuk memancing di laut. Predator aktif ini memiliki rahang yang diperkuat
kitin yang digunakan untuk menangkap invertebrata bertubuh lunak. Tiap segmen
tubuh memiliki sepasang struktur tambahan seperti pedal dalam sedinen dan menangkap
mangsa.
Polychaeta lain memiliki motifikasi
pada rangka tubuh dasar. Cacing kipas dan cacing bulu pembersih hidup dalam
tabung yang dibentuk dari sekreta lendir dan butir pasir. Ujung kepala keluar
dari tabung, dan tentakelnya menangkap makanan yang hanyut (Tanggart 2012).
b.
Oligochaeta
Oligochaeta meliputi cacing laut dan
air tawar, tetapi cacing tanah penggali daratan ialah yang paling dikenal. Kita
memakai tubuhnya secara detail sebagai contoh struktur anelida. Tubuh cacing
tanah bersegmen di bagian dalam dan luar. Lapisan luar ialah kutikula sekreta
protein. Gumpalan yang tampak di permukaannya menunjukan pertisi internal.
Selom yang berisi cairan terdapat di sepanjang tubuhnya. Tubuhnya terbagi
menjadi ruang selom, satu per segmen (Tanggart 2012).
C.
Sistem Pencernaan Makanan
Saluran pencernaan makanan (saluran pencernaan) cacing tanah sudah
lengkap dan sudah terpisah dari cardiovaskular. Saluran pencernaan ini terdiri
dari mulut, pharink, esophagus, proventriculus, ventriculus, intestin, dan
anus. Mulut cacing tanah terletak di dalam rongga oris atau rongga buccale.
Pharynx terdapat di dalam sigmen, bersifat muscular dan berguna untuk menghisap
partikel - partikel makanan. Esophagus terletak di ujung pharynx memanjang. Proventriculus merupakan bagian
ujung esophagus yang membesar, dan di bagian ini makanan di simpan, dinding
proventriculus tipis (Kastawi, 2001).
Makanan cacing tanah terdiri atas sisa-sisa hewan dan tanaman.
Cacing tanah ini mencari makanannya di luar liang, pada saat malam hari,
makanan diambil melalui mulutnya. Makanan di dalam esophagus tercampur dengan
cairan hasil sekresi kelenjar kapur (calciferous glands) yang terdapat
pada dinding esophagus itu. Cairan ini bersifat alkalis, tetapi fungsinya yang
tepat belum diketahui. Mungkin cairan ini menetralkan makanan - makanan yang
bersifat asam. Dari esophagus, makanan terus masuk ke dalam proventriculus yang
merupakan tempat penyimpanan makanan yang bersifat sementara (Kastawi, 2001).
Sitem
ekskresi atau exretorium cacing tanah berupa nephridia (hephridios = ginjal).
Pada tiap segmen tubuh terdapat sepasang hephridia, kecuali 3 sigmen yang
pertama dan segmen yang terakhir tidak ada. Tiap nephridia terdiri atas: suatu
bangunan berbentuk corong dan bersilia yang disebut nephrostoma, saluran atau
pipa yang berkelok - kelok. Jika silia itu bergetar, mereka menimbulkan aliran
cairan tubuh, yang mengandung sisa- sisa metabolisme dari coelom masuk ke dalam
saluran ekskresi. Kemudian cairan ini keluar dari tubuh cacing melalui
nephridioporus, yaitu sebuah lubang kecil yang merupakan muara keluar dari
saluran ekskresi dan terletak pada permukaan ventral tubung cacing. Di antara
nephrostoma dan saluran ekskresi terdapat sekat yang disebut septum
intersegmentale (Kastawi, 2001).
E.
Sistem Saraf
Sistem saraf (sistem nervosum) cacing tanah, terletak di sebelah
dorsal pharynx di dalam segmen yang ke 3 dan terdiri atas: ganglion cerebrale,
yang tersusun atas 2 kelompok sel- sel saraf dengan comissura, berkas saraf
ventralis dengn cabang - cabangnya. Ganglion cerebrale terletak di sebelah
dorsal pharynx, di dalam segmen ke tiga. Dari tiap kelompok sel - sel tersebut
terdapat: saraf - saraf yang menginnervasi daerah mulut dan berpangkal pada
ujung anterior tiap kelompok sel - sel tersebut, cabang saraf yang menuju ke
ventral dan melingkari pharynx. Saraf ini disebut comissura circum pharyngeale,
yang berhubungan dengan berkas saraf ventralis (Kastawi, 2001).
F.
Habitat
Cacing tanah hidup di dalam liang dalam tanah yang lembab, subur
dan suhunya tidak rendah. Cacing - cacing ini keluar ke permukaan hanya pada
saat - saat yang tertentu saja. Pada siang hari, mereka tidak pernah keluar ke
permukaan tanah, kecuali jika pada saat itu hujan, yang cukup menggenangi liang
itu. Mereka akan keluar terutama pada pagi hari sesudah hujan. Dalam keadaan
normal mereka akan pergi ke permukaan tanah pada malam hari. Dalam keadaan yang
sangat dingin atau sangat kering mereka masuk ke dalam liang, seringkali sampai
sedalam 8 kaki 240 cm, dan dalam keadaan ini beberapa cacing seringkali
terdapat melingkar bersama - sama dengan di atasnya terdapat lapisan tanah yang
bercampur dengan lendirnya (Kastawi, 2001).
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Adapun praktikum Zoologi Invertebrata mengenai Annelida di laksanakan
pada hari senin, tanggal 23 November 2015 pada pukul 08.00 s/d 10.00 WIB di
laboratorium Zoologi Invertebrata Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah
Palembang.
B.
Alat dan Bahan
1.
Alat
Adapun alat - alat yang digunakan pada
praktikum mengenai Annelida yaitu:
mikroskop, lup, pipet, gelas, pisau/silet, pinset dan botol.
2.
Bahan
Adapun bahan-bahan yang
digunakan pada praktikum Annelida yaitu: cacing tanah
C.
Cara Kerja
Adapun cara kerja yang dilakukan pada praktikum Filum Porifera
mengenai pemeriksaan sedian hidup dari pembenihan ini sebagai berikut:
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil
Tabel hasil
pengamatan morfologi cacing tanah (Lumbricus terrestris)
NO
|
Gambar
|
Keterangan
|
1.
|
1. Mulut
2. Mata
3. Kliterium
4. Setae
5. Ruas
6. Sertum
7. Anus
8. Nefridium
|
|
![]() |
Tabel 2. hasil pengamatan anatomi cacing tanah (Lumbricus
terrestris)
No
|
Gambar
|
Keterangan
|
1.
|
1. Mulut
2. Mata
3. Pembuluh
darah dorsal
4. Jantung
5. Genglia
saraf
6. Oseofagus
7. Pharynk
8. Anus
|
|
2.
|
![]() |
B.
Pembahasan
Berdasarkan
hasil pengamatan mengenai Filum Annelida bahwa Cacing tanah tidak
memiliki kaki. Memiliki kerutan (seta) disepanjang tubuhnya yang dapat
dijulur-kerutkan (bergerak seperti spiral). Bagian belakangnya berfungsi
sebagai penahan (jangkar). Klitelum merupakan organ pembentukan telur.
Warna bagian punggung (dorsal) adalah coklat sampai keunguan. Warna
bagian bawah (ventral) adalah krem. Pada bagian depan (anterior)
terdapat mulut tak bergigi. Pada bagian belakang (posterior) terdapat
anus. Cacing tanah bertubuh tanpa kerangka yang tersusun oleh segmen-segmen
fraksi luar dan fraksi dalam yang saling berhubungan secara integral.
Diselaputi oleh epidermis berupa kutikula (kulit kaku) berpigmen tipis dan
seta. Kecuali pada dua segmen pertama bagian mulut.
Tubuh cacing tanah sebagian besar terdiri dari air dan tersusun atas
segmen-segmen,sekitar 95 segmen yang dapat menyusut dan meregang untuk membantu
cacing bergerak didalam tanah. Cacing tanah tidak memiliki tulang, gigi, mata,
telinga, dan juga kaki. Cacing tanah memiliki organ perasa yang sensititf
terhadap cahaya dan sentuhan untuk membedakan perbedaan intensitas cahaya dan
merasakan getaran di dalam tanah. Selain itu, mereka juga memiliki kemoreseptor
khusus yang bereaksi terhadap ransangan kimia. Organ-organ perasa pada cacing
tanah terletak di bagian anterior . Kepala cacing tanah terletak pada
bagian yang paling dekat dengan klitellum. Mereka biasanya bergerak
searah bagian kepala menghadap saat berpindah tempat.
Menurut
Taggart (2012), cacing memiliki otak rudimen, suatu gabungan pasangan ganglia
mengoordinasi aktivitas otak mengirimkan sinyal melalui pasangan tali saraf.
Sebagai respons terhadap perintah saraf, otot berkontraksi dalam cara yang
menempatkan tekanan pada cairan ruang selom, cairan ini ialah rangka
hidrostatik.
Menurut
Kastawi (2001), cacing tanah mempunyai kemampuan regenerasi. Kemampuan
regnerasi ini tergantung pada bagian tubuh cacing yang dipotong. Bila seekor
cacing yanah dipotong menjadi 2 bagian,
maka pada potongan bagian anterior akan segera terbentuk ekor baru, sedangkan
pada potongan bagian posterior akan terbentuk kepala baru, tetapi prosesnya
lebih lambat. Jumlah segmen yang terjadi pada regenerasi umumnya lebih sedikit
dari pada jumlah segmen yang hilang.
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil praktikum mengenai Filum Annelida dapat disimpulkan bahwa pada morfologi
cacing terdapat mulut, mata, klitelium, setae, ruas, septum, anus, dan
nefridium. Kemudian pada anatominya terdapat mulut, mata, pembuluh darah dorsal,
jantung, ganglia saraf oseofagus, pharynk, dan anus.
DAFTAR PUSTAKA
Fried, George H. 2005. Biology. Jakarta: Erlangga.
Hanafiah, Kemas Ali. 2010. Biologi Tanah Ekologi. Jakarta:
Rajawali Pres.
Kastawi, Yusuf. 2001. Zoologi Invertebrata. Malang:
Jica-imstep.
Tanggart, Ralph. 2012. Biologi Kesatuan Keragaman Makhluk Hidup.
Jakarta: Selemba teknika

