Jumat, 08 Januari 2016

LAPORAN MRAKTIKUM ZOOLOGI INVERTEBRATA ANNELIDA

LAPORAN ZOOLOGI INVERTEBRATA
Annelida
Muhammad Irsan (14222102)
images (1)
Dosen Pengampuh
Awalul Fatiqin, M.Si

Asisten
1.        Nurul Azizi
2.        Iga Utama Putra
3.        Gustam Hermiadi
4.        Rabeta Ayu Susanti


PRODI TADRIS BIOLOGI
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
RADEN FATAH PALEMBANG
2015


BAB I
PENDAHULUAN

  A.    Latar Belakang
Annelida dalam bahasa latin, annulus= cincin, atau cacing gelang adalah kelompok cacing dengan tubuh bersegmen. Berbeda dengan pltyhelminthes dan nematyhelminthes, annelida merupakan hewan triploblastik yang sudah memiliki rongga tubuh sejati atau hewan selomata. Namun annelida merupakan hewan yang struktur tubuhnya paling sederhana. Filum annelida terdiri dari cacing berbuku-buku seperti cacing tanah. Perkembangan buku-buku badan ini memungkinkan adanya pembentukan fungsi yang berbeda dalam ruas badan (segmentasi) yang berbeda. Annelida memiliki coelom yang besar untuk mengakomodasi organ dalam yang lebih kompleks. Terdapat sekitar 12,000 jenis di laut, air tawar, dan daratan, terbagi menjadi tiga kelas .
Jumlah Annelida yang telah dikenal sekitar 15.000 spesies dengan ukuran yang bervariasi, dari yang panjangnya 1 mm hingga 3 m. Annelida dapat hidup di berbagai tempat, baik di air tawar, air laut, atau daratan. Umumnya hidup bebas, meskipun ada yang bersifat parasit. Cacing ini mempunyai tingkatan lebih tinggi dibanding dengan kedua kelompok  cacing yang telah dibahas sebelumnya. annelida memiliki bentuk tubuh bilateral, dengan tubuh beruas-ruas dan dilapisi lapisan kutikula nonchitinous serta dilengkapi pula oleh sejumlah bristle chitin yang disebut setae. Cacing ini terbagi sesuai dengan ruas-ruas tubuhnya terbagi sesuai dengan ruas-ruas tubuhnya dan satu sama lain dibatasi dengan sekat (septum). Pembuluh darah, sistem saraf, dan sistem ekskresi di setiap segmen saling berhubungan melewati septa. Meskipun demikian, antara ruas satu dengan ruas lainnya tetap berhubungan sehingga terlihat seperti cincin yang terkoordinasi .




  B.     Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum Anelida ini yaitu: untuk mengetahui Anelida secara morfologi dan anatomi dan untuk dapat mengamati dan mengklasifikasikan Anelida.

  




BAB II
KAJIAN PUSTAKA

  A.    Cacing Tanah
Secara sistematik, cacing tanah bertubuh tanpa kerangka yang tersusun oleh segmen - segmen (bagian - bagian) fraksi luar dan fraksi dalam yang saling berhubungan secara integral, diselaputi oleh epidermis (kulit) berupa kutikula (kulit kaku) berpigmen tipis dan setae (lapisan daging semu bawah kulit), kecuali pada dua sigmen pertama (bagian mulut) bersifat hemaprodit (berkelamin ganda) dengan gonads (peranti kelamin) seadanya pada segmen - segmen tertentu. Apabila dewasa, bagian epidermis pada posisi tertentu akan membengkak membentuk klitelum (tabung peranakan atau rahim), tempat mengeluarkan kokon (selubung bulat) berisi telur dan ova (bakal telur) . Setelah kawain (kopulasi), telur akan berkembang di dalamnya dan apabila menetas langsung serupa cacing dewasa (Hanafiah, 2010).
Secara struktural, cacing tanah mempunyai rongga besar yang mengandung coelomocytes (pembuluh - pembuluh mikro), yang merupakan sistem vaskular (bejana) tertutup. Saluran makanan berupa tabung snterior dan posterior, eskresi (kotoran) dikeluarkan lewat anus atau peranti khusus yang disebut nephridia. Respirasi (pernapasan) terjadi melalui kulit (Hanafiah, 2010).
a.       Sigmen Luar
Bagian luar cacing tanah tersusun oleh barisan sigmen - sigmen yang diperantai oleh alur atau lekukan antar segmen yang bertepatan dengan posisi septa pembagi badan secara internal. Sigmen - sigmen ini mempunyai lebar yang bervariasi dan yang paling lebar pada zona anterior dan zona kliteler. Dalam mendeskripsiannya, sigmen - sigmen dan luar antar sigmen ini diberi kombinasi nomor urut dari depan ke belakang (Hanafiah, 2010).

b.      Pigmentasi dan Kulit
Warna cacing tanah tergantung pada ada tidaknya dan jenis pigmen yang dimilikinya. Butiran pigmen ini berkembang da dalam lapian otot di bawah kulitnya. Paling tidak sebagian warna juga disebabkan oleh adanya cairan kulomik kuning atau sel klorogagen hijau dekat permukaan. Warna bagian dada dan perut umumnya lebih muda dibandingkan dengan bagian yang lain, kecuali misalnaya pada megascolesidae  yang berpigmen gelap, berwarna sama. Pigmen cacing tanah umumnya adalah portirins, yang boleh jadi berasal dari hasil hancuran sel klorogagen. Cacing yang tanpa atau berpigmen sedikit, jika berkulit transparan biasanya terlihat berwarna merah atau pink akibat adanya haemoglobin dari zona permukaan pembuluh kapiler, tetapi jika kulitnya tidak transparan akan terlihat warna putih. Apabila kulitnya sangat iridescent, seperti pada lumbricus dan denrobaena, maka akan terlihat biru atau kehijauan (Hanafiah, 2010).

  B.     Analida (Cacing Bersegmen
Analida ( Filum Analida) ialah cacing bilateral dengan selom dan tubuh bersegmen, dalam dan luar. Mayoritas dari 12.000 spesies ialah cacing laut disebut polychaeta. Dua kelompok lainnya ialah oligochaeta (meliputi cacing tanah) dan lintah. Kecuali pada lintah, hampir semua segmen memiliki chaeta atau duri yang diperkuat kitin. Jadi, cacing ini dinamai polychaeta dan oligochaeta (poly berarti banyak, oliga berarti sedikit) (Tanggart 2012).
a.         Polychaeta Laut
Polychaeta yang paling terkenal ialah cacing pasir (Nereis). Cacing ini sering dijual sebagai umpan untuk memancing di laut. Predator aktif ini memiliki rahang yang diperkuat kitin yang digunakan untuk menangkap invertebrata bertubuh lunak. Tiap segmen tubuh memiliki sepasang struktur tambahan seperti pedal dalam sedinen dan menangkap mangsa.
Polychaeta lain memiliki motifikasi pada rangka tubuh dasar. Cacing kipas dan cacing bulu pembersih hidup dalam tabung yang dibentuk dari sekreta lendir dan butir pasir. Ujung kepala keluar dari tabung, dan tentakelnya menangkap makanan yang hanyut (Tanggart 2012).

b.      Oligochaeta
Oligochaeta meliputi cacing laut dan air tawar, tetapi cacing tanah penggali daratan ialah yang paling dikenal. Kita memakai tubuhnya secara detail sebagai contoh struktur anelida. Tubuh cacing tanah bersegmen di bagian dalam dan luar. Lapisan luar ialah kutikula sekreta protein. Gumpalan yang tampak di permukaannya menunjukan pertisi internal. Selom yang berisi cairan terdapat di sepanjang tubuhnya. Tubuhnya terbagi menjadi ruang selom, satu per segmen (Tanggart 2012).

  C.    Sistem Pencernaan Makanan
Saluran pencernaan makanan (saluran pencernaan) cacing tanah sudah lengkap dan sudah terpisah dari cardiovaskular. Saluran pencernaan ini terdiri dari mulut, pharink, esophagus, proventriculus, ventriculus, intestin, dan anus. Mulut cacing tanah terletak di dalam rongga oris atau rongga buccale. Pharynx terdapat di dalam sigmen, bersifat muscular dan berguna untuk menghisap partikel - partikel makanan. Esophagus terletak di ujung pharynx  memanjang. Proventriculus merupakan bagian ujung esophagus yang membesar, dan di bagian ini makanan di simpan, dinding proventriculus tipis (Kastawi, 2001).
Makanan cacing tanah terdiri atas sisa-sisa hewan dan tanaman. Cacing tanah ini mencari makanannya di luar liang, pada saat malam hari, makanan diambil melalui mulutnya. Makanan di dalam esophagus tercampur dengan cairan hasil sekresi kelenjar kapur (calciferous glands) yang terdapat pada dinding esophagus itu. Cairan ini bersifat alkalis, tetapi fungsinya yang tepat belum diketahui. Mungkin cairan ini menetralkan makanan - makanan yang bersifat asam. Dari esophagus, makanan terus masuk ke dalam proventriculus yang merupakan tempat penyimpanan makanan yang bersifat sementara (Kastawi, 2001).

D. Sistem Ekskresi
Sitem ekskresi atau exretorium cacing tanah berupa nephridia (hephridios = ginjal). Pada tiap segmen tubuh terdapat sepasang hephridia, kecuali 3 sigmen yang pertama dan segmen yang terakhir tidak ada. Tiap nephridia terdiri atas: suatu bangunan berbentuk corong dan bersilia yang disebut nephrostoma, saluran atau pipa yang berkelok - kelok. Jika silia itu bergetar, mereka menimbulkan aliran cairan tubuh, yang mengandung sisa- sisa metabolisme dari coelom masuk ke dalam saluran ekskresi. Kemudian cairan ini keluar dari tubuh cacing melalui nephridioporus, yaitu sebuah lubang kecil yang merupakan muara keluar dari saluran ekskresi dan terletak pada permukaan ventral tubung cacing. Di antara nephrostoma dan saluran ekskresi terdapat sekat yang disebut septum intersegmentale (Kastawi, 2001).

E.     Sistem Saraf
Sistem saraf (sistem nervosum) cacing tanah, terletak di sebelah dorsal pharynx di dalam segmen yang ke 3 dan terdiri atas: ganglion cerebrale, yang tersusun atas 2 kelompok sel- sel saraf dengan comissura, berkas saraf ventralis dengn cabang - cabangnya. Ganglion cerebrale terletak di sebelah dorsal pharynx, di dalam segmen ke tiga. Dari tiap kelompok sel - sel tersebut terdapat: saraf - saraf yang menginnervasi daerah mulut dan berpangkal pada ujung anterior tiap kelompok sel - sel tersebut, cabang saraf yang menuju ke ventral dan melingkari pharynx. Saraf ini disebut comissura circum pharyngeale, yang berhubungan dengan berkas saraf ventralis (Kastawi, 2001).

F.     Habitat
Cacing tanah hidup di dalam liang dalam tanah yang lembab, subur dan suhunya tidak rendah. Cacing - cacing ini keluar ke permukaan hanya pada saat - saat yang tertentu saja. Pada siang hari, mereka tidak pernah keluar ke permukaan tanah, kecuali jika pada saat itu hujan, yang cukup menggenangi liang itu. Mereka akan keluar terutama pada pagi hari sesudah hujan. Dalam keadaan normal mereka akan pergi ke permukaan tanah pada malam hari. Dalam keadaan yang sangat dingin atau sangat kering mereka masuk ke dalam liang, seringkali sampai sedalam 8 kaki 240 cm, dan dalam keadaan ini beberapa cacing seringkali terdapat melingkar bersama - sama dengan di atasnya terdapat lapisan tanah yang bercampur dengan lendirnya (Kastawi, 2001).




                               BAB III
           METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat
Adapun praktikum Zoologi Invertebrata mengenai Annelida di laksanakan pada hari senin, tanggal 23 November 2015 pada pukul 08.00 s/d 10.00 WIB di laboratorium Zoologi Invertebrata Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang.

B.     Alat dan Bahan
1.      Alat
     Adapun alat - alat yang digunakan pada praktikum mengenai  Annelida yaitu: mikroskop, lup, pipet, gelas, pisau/silet, pinset dan botol.

2.      Bahan
 Adapun bahan-bahan yang digunakan pada praktikum Annelida yaitu: cacing tanah

C.    Cara Kerja
Adapun cara kerja yang dilakukan pada praktikum Filum Porifera mengenai pemeriksaan sedian hidup dari pembenihan ini sebagai berikut:











BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

  A.    Hasil
Tabel hasil pengamatan morfologi cacing tanah (Lumbricus terrestris)
NO
Gambar
Keterangan
1.

1.      Mulut
2.      Mata
3.      Kliterium
4.      Setae
5.      Ruas
6.      Sertum
7.      Anus
8.      Nefridium




cacing3



Tabel 2.  hasil pengamatan anatomi cacing tanah (Lumbricus terrestris)
No
Gambar
Keterangan
1.
                                                                   
1.      Mulut
2.      Mata
3.      Pembuluh darah dorsal
4.      Jantung
5.      Genglia saraf
6.      Oseofagus
7.      Pharynk
8.      Anus
2.



cacing2


  B.     Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan mengenai Filum Annelida bahwa Cacing tanah tidak memiliki kaki. Memiliki kerutan (seta) disepanjang tubuhnya yang dapat dijulur-kerutkan (bergerak seperti spiral). Bagian belakangnya berfungsi sebagai penahan (jangkar). Klitelum merupakan organ pembentukan telur. Warna bagian punggung (dorsal) adalah coklat sampai keunguan. Warna bagian bawah (ventral) adalah krem. Pada bagian depan (anterior) terdapat mulut tak bergigi. Pada bagian belakang (posterior) terdapat anus. Cacing tanah bertubuh tanpa kerangka yang tersusun oleh segmen-segmen fraksi luar dan fraksi dalam yang saling berhubungan secara integral. Diselaputi oleh epidermis berupa kutikula (kulit kaku) berpigmen tipis dan seta. Kecuali pada dua segmen pertama bagian mulut.
Tubuh cacing tanah sebagian besar terdiri dari air dan tersusun atas segmen-segmen,sekitar 95 segmen yang dapat menyusut dan meregang untuk membantu cacing bergerak didalam tanah. Cacing tanah tidak memiliki tulang, gigi, mata, telinga, dan juga kaki. Cacing tanah memiliki organ perasa yang sensititf terhadap cahaya dan sentuhan untuk membedakan perbedaan intensitas cahaya dan merasakan getaran di dalam tanah. Selain itu, mereka juga memiliki kemoreseptor khusus yang bereaksi terhadap ransangan kimia. Organ-organ perasa pada cacing tanah terletak di bagian anterior . Kepala cacing tanah terletak pada bagian yang paling dekat dengan klitellum. Mereka biasanya bergerak searah bagian kepala menghadap saat berpindah tempat.
Menurut Taggart (2012), cacing memiliki otak rudimen, suatu gabungan pasangan ganglia mengoordinasi aktivitas otak mengirimkan sinyal melalui pasangan tali saraf. Sebagai respons terhadap perintah saraf, otot berkontraksi dalam cara yang menempatkan tekanan pada cairan ruang selom, cairan ini ialah rangka hidrostatik.
Menurut Kastawi (2001), cacing tanah mempunyai kemampuan regenerasi. Kemampuan regnerasi ini tergantung pada bagian tubuh cacing yang dipotong. Bila seekor cacing  yanah dipotong menjadi 2 bagian, maka pada potongan bagian anterior akan segera terbentuk ekor baru, sedangkan pada potongan bagian posterior akan terbentuk kepala baru, tetapi prosesnya lebih lambat. Jumlah segmen yang terjadi pada regenerasi umumnya lebih sedikit dari pada jumlah segmen yang hilang.





BAB V
PENUTUP

  A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum mengenai Filum Annelida dapat disimpulkan bahwa pada morfologi cacing terdapat mulut, mata, klitelium, setae, ruas, septum, anus, dan nefridium. Kemudian pada anatominya terdapat mulut, mata, pembuluh darah dorsal, jantung, ganglia saraf oseofagus, pharynk, dan anus.





  

DAFTAR PUSTAKA

Fried, George H. 2005. Biology. Jakarta: Erlangga.
Hanafiah, Kemas Ali. 2010. Biologi Tanah Ekologi. Jakarta: Rajawali Pres.
Kastawi, Yusuf. 2001. Zoologi Invertebrata. Malang: Jica-imstep.
Tanggart, Ralph. 2012. Biologi Kesatuan Keragaman Makhluk Hidup. Jakarta: Selemba teknika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar